Wellbeing

Kesepian: 5 Hal yang Mungkin Tidak Anda Ketahui

Loneliness-1

Hampir semua orang pernah merasa kesepian di satu titik. Kabar baiknya adalah, bagi kebanyakan dari kita, ini adalah kondisi sementara, yang mungkin disebabkan oleh perubahan hidup: pindah ke lokasi baru, misalnya, atau memulai pekerjaan baru.

Tapi bagi orang lain, kesepian adalah jalan hidup, yang mungkin bukan berasal dari jumlah orang di sekitarnya tapi karena kurangnya hubungan dengan orang lain. Dan, penelitian telah menunjukkan, kesepian kronis dapat memiliki konsekuensi buruk bagi kesehatan Anda.

Ilmuwan masih memeriksa hubungan antara kesehatan mental dan fisik dan bagaimana kesepian mempengaruhi tubuh kita. Tapi Anda mungkin tidak tahu tentang beberapa temuan mereka selama ini.

Mempengaruhi otak Anda dengan cara yang mirip dengan rasa sakit fisik

Sebuah studi luar biasa yang dipimpin oleh Naomi Eisenberger, seorang profesor psikologi sosial di UCLA, menemukan bahwa menutup diri – yang dapat mendorong Anda ke perimeter sosial dan sebagai akibatnya, menyebabkan perasaan kesepian – dapat memicu aktivitas di beberapa daerah otak yang sama yang mengatur nyeri fisik.

Dari perspektif evolusioner, ini masuk akal. Nenek moyang kita di zaman prasejarah mengandalkan kelompok sosial bukan hanya untuk persahabatan, tapi untuk bertahan hidup. Tetap dekat dengan kelompok suku dapat membawa akses ke tempat tinggal, makanan, dan perlindungan. Pemisahan diri dari kelompok, di sisi lain, berarti bahaya.

Sekarang ketika kita merasa ditinggalkan, tubuh kita mungkin merasakan ancaman untuk bertahan hidup, dan beberapa gejala rasa sakit yang sama yang terjadi jika kita berada dalam bahaya fisik nyata akan muncul secara tiba-tiba. Pada kesepian kronis, tingkat hormon stres kortisol melonjak lebih tinggi di pagi hari daripada orang-orang yang terhubung secara sosial dan tidak pernah sepenuhnya mereda di malam hari.

Loneliness-2

Membuat Anda tidak bisa tidur nyenyak

Sebuah penelitian kecil di tahun 2011 menemukan bahwa orang yang merasa kesepian cenderung mengalami gangguan tidur malam lebih banyak daripada mereka yang tidak.

Para peneliti menemukan bahwa hubungan antara gangguan tidur dan kesepian tetap ada bahkan setelah status perkawinan dan ukuran keluarga diperhitungkan, yang menunjukkan bahwa kesepian bergantung pada bagaimana orang melihat situasi sosial mereka daripada situasi itu sendiri.

95 peserta dalam penelitian ini semuanya memiliki hubungan sosial yang kuat dan merupakan bagian dari komunitas pedesaan South Dakota yang erat. Namun, para peneliti menemukan bahwa, bahkan perbedaan kecil dalam tingkat kesepian mereka tercermin dalam tidur mereka.




Meningkatkan risiko demensia

Dalam sebuah studi tahun 2012 tentang hampir 2.200 orang dewasa usia lanjut yang tinggal di Amsterdam, para peneliti menemukan bahwa peserta yang melaporkan merasa kesepian – terlepas dari jumlah teman dan keluarga di sekitar mereka – lebih mungkin mengalami demensia daripada mereka yang tinggal sendiri.

Peserta studi berusia 65 sampai 86 tahun yang tidak menunjukkan tanda-tanda demensia dan tidak tinggal di lembaga seperti panti jompo. Sekitar setengahnya tinggal sendiri, dan 20% melaporkan merasa kesepian. Hampir dua pertiga adalah perempuan.

Setelah disesuaikan dengan faktor-faktor seperti usia, para peneliti menemukan bahwa merasa kesepian meningkatkan risiko demensia sebesar 64%. Tapi, mereka mengingatkan, itu tidak membuktikan bahwa kesepian menyebabkan demensia dan mencatat bahwa kebalikannya bisa terjadi juga, karena demensia dan perubahan mood yang menyertainya dapat berkontribusi pada beberapa kasus penarikan diri secara sosial karena kesepian.

Menyebabkan kematian dini

Dua studi lainnya di tahun 2012 menemukan bahwa hidup sendiri – atau hanya merasa kesepian – dapat meningkatkan risiko kematian dini seseorang.

Sebuah studi yang diikuti hampir 45.000 orang berusia 45 tahun dan yang memiliki penyakit jantung atau berisiko tinggi untuk itu. Studi tersebut menemukan bahwa mereka yang tinggal sendiri, lebih mungkin meninggal karena serangan jantung, stroke atau komplikasi lainnya selama periode empat tahun daripada mereka yang tinggal dengan keluarga atau teman atau dalam suatu komunitas lainnya.

Penelitian kedua berfokus pada orang yang berusia 60 tahun dan yang lebih tua dan menemukan bahwa pria dan wanita 45% lebih mungkin meninggal selama masa studi (enam tahun) jika mereka melaporkan merasa kesepian, terisolasi atau ditinggalkan. Tapi mereka yang melaporkan kesepian – yaitu 43% dari populasi penelitian – tidak selalu hidup sendiri. Peneliti mengatakan hubungan antara perasaan kesepian dan masalah kesehatan ada bahkan setelah situasi kehidupan, depresi dan faktor lainnya diperhitungkan.

Merusak jantung Anda

Menurut sebuah penelitian di tahun 2011 terhadap 93 orang dewasa, orang yang melaporkan kesepian kronis mungkin memiliki kelebihan ekspresi gen yang terhubung ke sel yang menghasilkan respon peradangan terhadap kerusakan jaringan.

Meski respon peradangan mungkin baik dalam jangka pendek, peradangan jangka panjang bisa menyebabkan penyakit jantung dan kanker.

Studi ini hanya menemukan korelasi antara ekspresi gen dan kesepian, jadi tidak dipastikan bahwa satu hal bisa menyebabkan yang lain. Namun, salah satu penulis studi Steven Cole menyarankan bahwa obat anti peradangan bisa membantu orang yang tidak bisa melepaskan diri dari perasaan kesepian.

Jadi, demi kesehatan Anda, keluarlah dari rasa kesepian dan mulailah membuka diri terhadap lingkungan sosial di sekitar Anda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Paling Populer

Get Health & Fitness Tips to Your Inbox:

Follow us yah !

Copyright © 2016 All Rights and Contents Reserved by FatFit.net

To Top